asKep empiemA

BAB I

Konsep Dasar Empiema

A, Pengertian

Empiema adalah pengumpulan cairan purulen(pus) dalam kavitas pleural. Pada awalnya cairan pleura sedikit, dengan hitung leukosit rendah, tetepi seringkali cairan ini berkembang ke tahap fibro purulen dan akhirnya ke tahap dimana cairan tersebut membungkus paru dan membrane eksudatif yang tebal. Kondisi ini dapat terjadi jika abses paru meluas sampai kavitas pleural. Meskipun empiema bukan merupakan komplikasi lazim infeksi paru, empiema dapat saja terjadi jika pengobatan terlambat.

B. Patogenesis

Hampir selalu penyebab empiema adalah infeksi paru, kecuali adalah empiema paska trauma atau selulitis di dekat pleura.

Oleh karena infeksi Pneumonia terjadi sumbatan bronkioli atau alveoli, keadaan ii menyebabkan akan mengganggu pengembangan paru atau faal pernafasan, dengn empiema akan bertambah lagi gangguan pernafasan karena pendorongan paru atau mediastinum. Infeksi oleh sebab apapun akan mengganggu penyerapan cairan pleura, dan cairan ini menjadi lebih baik lagi untuk pertumbuhan kuman.

Perkembangan keadaan Empiema dibagi dalam 4 fase :

  1. Fase Eksudat.Pada keadaan ini cairan di pleura biasanya jernih, meskipun viskositas cairan lebih tinggi daripada cairan transudat.Biasanya fase ini akan berlangsung denga cepat, dalam beberapa jam sampai beberapa hari saja.
  2. Fase Fibro Purulen. Setelah dilewati fase eksudat akan masuk ke fase fibro purulen. Pada keadaan ini pus yang didapat adalah kental dan di dalamnya terdapat fibrin-fibrin yang menyulitkan untuk mengeluarkan pus dengan pungsi atau dengan WSD. Adanya fibri dapat juga menyebabkanlokulasi empiema. Biasanya Fase ini juga berjalan hanya beberapa hari saja.
  3. Fase Organisasi. Setelah dilewati fase fibrino purulen, masuk pada fase organisasi. Pada fase ini tidak berarti empiema sudah baik karena orgnisasipus menyebabkan pus akan bersepta-septa atau lokulasi. Keadaan ini akan menyebabkan penyembuhan lebih sulit. Dengan adanya organisasi juga menyebabkan penebalan pleura visceralis yang akan menyebabkan hambatan pengembangan paru.

C. Patofisiologi

Oleh karena infeksi paru terjadi penyempitan atau tertutupnya bronkioli dan alveoli.keadaan ini akan menyebabkan gangguan pengembangan paru dan respirasi.pada empiema akut sekat mediastinum masih dapat bergerak ke kiri dankekanan.Bila ada tekanan positif dari salah satu rongga dada akan meyebabkan sekat mediastinum ini bergeser kesisi yang sehat.Bila oleh karena empiema atau oleh udara baik oleh fistel atau oleh istrogenik akan menyebabkan gangguan kebih besar lagi.Radang dipleura akan durasakan penderita sebagai rasa sakit.Bila keadaan berlanjut terjadi fibrosis di jaringan paru bawah pleura akan menyebabkan gangguan faal respirasi.

D.Manifestasi klinis

Pasien mengalami demam,berkeringat malam,nyeri pleural,dipsnea,anoreksia,dan penurunan berat badan.Auskultasi dada memperlihatkan tidak terdengarnya bunyi napas dan terdapat bunyi datar pada saat perkusi dada, juga penurunan fremitus(vibrasi local terdeteksi saat palpasi).Jika pasien telah mendapat terapi anti mikroba,manifestasi klinis dapat berubah.Diadnosis ditegakkan dengan hasil rontgen dada dan torasentesis.

E.Pemeriksaan Diagnostik

1.Rontgen dada

2.Torasentesis

3.Sinar x.Mengidentifikasi distribusi stuktural,menyatakan abses luas/infiltrate,empiema(strafilokokus).infiltrat menyebar atau terlokalisasi(bacterial).

4.GDA /nadi oksimetri.Tidak normal mungkin terjadi,tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada

5.Tes fungsi paru.Dilakukan untuk menentukan penyebab dipsnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi,untuk memperkirakan derajat disfungsi.

6.Pemeriksaan Gram/kultur sputum dan darah

Dapat diambil dengan biopsy jarum,aspirasi transtrakeal,bronkoskopi fiberoptik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.Lebih dari satu tipe organisme ada: bakteri yang umum meliputi diplokokus pneumonia,strafilokokus aureus,A-hemolitik streptokokus,haemophilus influenza:CMV.Catatan: kultur sputum dapat tak mengidentifikasi semua organisme yang ada,kultur darah dapat menunjukkan bakterimia sementara.

7.EKG latihan,tes stress

Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru perencanaan/evaluasi program latihan.

F. Penatalaksanaan Medis.

Tujuan pengobatan ini adalah untuk mengalirka cairan dalam kavitas pleura dan untuk mencapai ekspansi paru sempurna. Cairan dilirkan dan diresepkan antibiotic yang sesuai dengan organisme penyebab. Antibiotik dalam dosis yang besar biasanya diberikn streptokinase dapat juga dimasukkn kedalam ruang untuk mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.

Ada 3 dasar atau prinsip pengobatan paru :

  1. Pengeluaran pus seluruhnya, sehingga
  2. Paru dapat mengembang sampai pleura parietalis menempel dengan pleura visceralis atau dengan kata lain oblitrasi ronnga empiema
  3. Memberantas infeksi dengan antibiotic.

Drainase cairan pleura tergantung pada tahap penyakit dan dilkukan dengan :

    • Aspirasi jarum atau torasintesis dengan kateter perkutan yang kecil, jika caitn tidak terlalu banyak.
    • Drainase dada tertutup menggunakan selang interkostal dengan diameter besar yang disambungkan ke drainase water-seal.
    • Drainase terbuka dengan cara reseksi iga untuk mengangkat pleura yang mengalami penebalan, pus dan debris serta untuk mengangkat jaringan paru yang sakit di bawahnya.

Jika inflamasi telah berlangsung lama, eksudat dapat terjadi diatas paru dan menggangu ekspansi normal paru. Dalam keadaan ini diperlukan pembuangan eksudat melalui tindakan bedah (dekortikasi)

BAB II

Asuhan Keperawatan pada Pasien

Dengan Empiema

  1. Pengkajian

1.Dasar Data Pengkajian Pasien

1. Aktivitas / istirahat

Gejala : Keletihan, kelelahan, dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan

Tanda : Keletihan, gelisah, kelemhan umum/ kehilangan massa otot, takikardia, dispnea, nyeri.

2. Integritas Ego

Gejala : Peningkatan Faktor resiko, perubahan pola hidup, ketakutan

Tanda : ansietas, peka rangsan, gelisah, wajah tegang, peningkatan keringat

3. Makanan / cairan

Gejala : mual, muntah, ketidakmampuan untuk makan karena distress pernafasan, kehilangan nafsu makan

Tanda : Turgor kulit buruk,kering, kehilangan tonus, berkeringat

4. Hiegien

Gejala : Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari

Tanda : kebersihan buruk, bau badan.

5. Pernapasan

Gejala : Nafas pendek, batuk menetap dengan produksi sputum stiap hari, dispnea

Tanda : Takipnea, dispnea, batuk, pengembangan pernafasan tak simetri, perkusi pekak,penurunan fremits, bunyi nafas menurun/ tak ada secara bilateral atau uni lateral

6. Keamanan

Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat atau factor-faktor lingkungan adanya/ berulangnya infeksi.

7. Interaksi Sosial

Gejala : Hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/ orang terdekat, penyakit lama atau ketidakmampuan membaik.

Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ memoertahankan suara karena distress pernafasan, kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

8. Penyuluhan/ pembelajaran

Gejala : Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kegagalan untuk membaik

Pertimbangan Rencana Pemulangan : Perubahan pengobatn/program terapeutik, bantuan perawatan diri, pengaturan rumah/memelihara.

2. Pemeriksaan Fisik

  • Dispnea berat, napas pendek
  • Diaforesis
  • Ketidaknormalan irama,frekuensi dan kedalaman napas
  • Warna kulit tidak normal, misalnya pucat dan kehitaman
  • Bunyi napas tak normal, misalnya mengi ronkhi
  • Batuk menetap dengan / tanpa produksi sputum
  • Nyeri dada
  • Kehilangan massa, tonus otot buruk
  • Menangis, cemas
  • Mual, muntah
  • Batuk berlebihan
  • Lemah, letih, lelah
  • Ansietas
  • Somnolen
  • Takipnea

  1. Diagnosa Keperawatan

1. DP 1

Gangguan Pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen, kerusakan alveoli, ketidakseimbangan perfusi-ventilasi

v Batasan Karakteristik

Subjektif : dispnea, sakit kepala pada saat bangun, gangguan penglihtan.

Objektif : gas darah arteri tidak normal, pH arteri tidak normal, ketidak normalan frekuensi, irama dan kedalaman nafas, warna kulit tidak normal, misalnya pucat dan kehitaman, konfusi, sianosis(hanya pada neonatus), CO2 menurun, diaforesis, hiperkapnia,hiperkardia, hipoksia, hipoksemia, iritabilitas, cuping hidung mengembang, gelisah, somnolen, takikardia

v Tujuan / Hasil

Status pernapasan : pertukaran gas : CO2 atau O2 di alveolar ub\ntuk mempertahankan konsentrasi gas darah arteri dan bebas gejala distress pernafasan

Status pernapasan : ventilasi : perpindahan udara masuk dan keluar dari paru-paru

v Kriteria Evaluasi

Gangguan pertukaran gas akan terkurangi yang membuktikn dengan status pernapasan : pertukaran gs dan status pernapasan : ventilasi tidak bermasalah

Status pernapsan : pertukaran gas tidak akan terganggu dibuktikan dengan indicator gangguan sbb :

Status neurologist dalam rentang yang diharapkan, dispnea pada saat istirahat dan aktivitas tidak ada, gelisah,sionosi dan keletihan tidak ada,Pao2,Paco2,PH arteri,dan saturasi o2 dalam batas normal,end tidal Co2 dalam rentang yang diharapkan.

v Intervensi dan rasionalisasi

Intervensi

Rasional

Mandiri

1.Kaji frekuensi,kedalaman .pernapasan,catat penggunaan otot aksesori,napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.

2.Tinggikan kepala tempat tidur,Bantu pasien untuk memilih posisi yang dalam perlahan atau napas bibir sesuai kebutuhan /toleransi individu.

  1. Kaji/awasi secara rutin kualitas warna membrane mukosa
  2. Auskultasi bunyi napas ,catat area penurunan aliran udara dan/bunyi tambahan.
  3. Awasi tinkat kesadaran selidiki adanya perubahan
  4. Awasi tanda vital

Kolaborasi

7.Awasi/gambarkan seri GDA dan

nadi oksimetri

8.Berikan oksigan tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien

9.Bantu intubasi,berikan/pertahankan ventilasi mekanik,atau narkotik dengan hati-hati.

1. Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan/atau kronisnya proses penyakit.

2.Pengiriman oksigen

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA

I. Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

II. Jenis – jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) a. Sectio caesarea transperitonealis ? SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : ? Mengeluarkan janin dengan cepat ? Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik ? Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan ? Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik ? Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan ? SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : ? Penjahitan luka lebih mudah ? Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik ? Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum ? Perdarahan tidak begitu banyak ? Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : ? Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak ? Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) III. Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) ? Fetal distress ? His lemah / melemah ? Janin dalam posisi sungsang atau melintang ? Bayi besar ( BBL ? 4,2 kg ) ? Plasenta previa ? Kalainan letak ? Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) ? Rupture uteri mengancam ? Hydrocephalus ? Primi muda atau tua ? Partus dengan komplikasi ? Panggul sempit ? Problema plasenta

IV. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) - Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari - Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung - Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik 2. Perdarahan - Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka - Perdarahan pada plasenta bed 3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

V. POST PARTUM A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama ? 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) B. PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

C. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN 1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. 2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

D. TANDA DAN GEJALA 1. Perubahan Fisik a. Sistem Reproduksi • Uterus • Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.

Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. - Lochea • Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe. • Tahap a. Rubra (merah) : 1-3 hari. b. Serosa (pink kecoklatan) c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. • Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. - Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. - Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. - Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. - Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. - Perineum • Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu. • Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal b. Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. c. Sistem Endokrin - Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. - Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum. d. Sistem Kardiovaskuler - Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. - Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc. - Perubahan hematologik Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat. - Jantung Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu. e. Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. f. Sistem Gastrointestinal - Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. - Nafsu makan kembali normal. - Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg. g. Sistem Urinaria - Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. - Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam. - Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. h. Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum. i. Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. j. Sistem Imun Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

VI. PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : 1. Kesempitan pintu atas panggul 2. kesempitan bidang bawah panggul 3. kesempitan pintu bawah panggul 4. kombinasi kesempitan pintu atas pangul, bidang tengah dan pintu bawah panggul. ? Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm, maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : 1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan a. Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil b. Panggul picak : ukuran muka belakang sempit, ukuran melintang biasa c. Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang d. Panggul corong :pintu atas panggul biasa,pintu bawah panggul sempit e. Panggul belah : symphyse terbuka

2. kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya a. Panggul rachitis : panggul picak, panggul sempit, seluruha panggul sempit picak dan lain-lain b. Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang c. Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring 3. kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang a. kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong b. sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring 4. kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah coxitis, luxatio, atrofia. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul.

? Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. 1. Pengaruh pada kehamilan - Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata - Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit - Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir - Dapat menimbulkan letak muka, letak sungsang dan letak lintang. - Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata.

2. Pengaruh pada persalinan - Persalinan lebih lama dari biasa. a. Karena gangguan pembukaan b. Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya, karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul - Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : a. Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. Asynclitismus sering juga terjadi, yang diterapkan dengan “knopfloch mechanismus” (mekanisme lobang kancing) b. Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecil-kecilnya c. Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. - Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit - Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. - Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan symphyse sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. - Ruptur symphyse dapat terjadi , malahan kadang – kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. - Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada urat-urat saraf didalam rongga panggul , yang paling sering adalah kelumpuhan N. Peroneus.

3. Pengaruh pada anak - Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. - Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak - Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari ½ cm. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. ? Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : 1. Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 2. Pada primipara ada perut menggantung 3. pada multipara persalinan yang dulu – dulu sulit 4. kelainan letak pada hamil tua 5. kelainan bentuk badan (Cebol, scoliose,pincang dan lain-lain) 6. osborn positip ? Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor - Bentuk panggul - Ukuran panggul, jadi derajat kesempitan - Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul - Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala - Presentasi dan posisi kepala - His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran – ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 ½ cm. Sebaliknya kalau CV 8 ½ cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. Karena itu kalau CV < 8 ½ cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8,5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : 1. Riwayat persalinan yang lampau 2. besarnya presentasi dan posisi anak 3. pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa 4. his 5. lancarnya pembukaan 6. infeksi intra partum 7. bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 ½ - 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan.

? Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala, jadi tidak dilakukan pada letak sungsang, letak dahi, letak muka atau kelainan letak lainnya. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: 1. – pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya - Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik - Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis 2. – setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban,kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat - Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : 1. Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas 2. test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: 1. Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit 2. kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut

? kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5

Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : 1. Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 ½ cm 2. diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 ½ cm 3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 5 cm dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : 1. Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13,5 atau kurang ( normal 10,5 cm + 5 cm = 15,5 cm) 2. diameter antara spina < 9 cm ukuran – ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis, harus diukur secara rontgenelogis, tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : - Spinae ischiadicae sangat menonjol - Kalau diameter antar tuber ischii 8 ½ cm atau kurang

? Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadang-kadang diperlukan SC. ? Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum, karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir. ? Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran – ukuran yang penting ialah : 1. Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm 2. diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 ½ cm 3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 ½ cm pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7,5 cm = 18,5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas.

VII. Pengkajian 1. Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) 2. integritas ego perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis 3. Makanan / cairan Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis 4. Pernafasan Adanya infeksi, kondisi yang kronik/ batuk, merokok 5. Keamanan ? Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan ? Adanya defisiensi imun ? Munculnya kanker/ adanya terapi kanker ? Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi ? Riwayat penyakit hepatic ? Riwayat tranfusi darah ? Tanda munculnya proses infeksi

VIII. Pathways

IX. Proritas Keperawatan ? Mengurangi ansietas dan trauma emosional ? Menyediakan keamanan fisik ? Mencegah komplikasi ? Meredakan rasa sakit ? Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan ? Menyediakan informasi mengenai proses penyakit X. Diagnosa Keperawatan ? Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan ? Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri ? Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas ? Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri, mual, muntah ) XI. Intervensi DP Tujuan Intervensi Rasional Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan

Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri

Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas

Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan tubuh untuk penyembuhan luka,penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah Ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan kriteria hasil : - Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan pembedahan - Tidak tampak gelisah - Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama - Pasien merasa tenang

Infeksi tidak terjadi setelah perawatan selama 24 jam pertama dengan kriteria hasil : - Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi - Albumin dalam keadaan normal - Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam

Nyeri dapat berkurang setelah perawatan 1x 24 jam dengan kriteria : - Pasien tidak mengeluh nyeri / mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang

Mendemontrasikan berat badan stabil atau penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas dari tanda malnutrisi - Lakukan pendekatan diri pada pasien supaya pasien merasa nyaman - Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi dan ibu

- Berikan nutrisi yang adekuat - Berikan penkes untuk menjaga daya tahan tubuh, kebersihan luka, serta tanda-tanda infeksi dini pada luka

- lakukan pengkajian nyeri - lakukan managemen nyeri - monitoring keadaan insisi luka post operasi - ajarkan mobilitas yang memungkinkan tiap jam sekali

- kaji status nutrisi secara continue selama perawatan tiap hari, perhatikan tingkat energi, kondisi, kulit, kuku, rambut, rongga mulut - tekankan pentingnya trasnsisi pada pemberian makan per oral dengan tepat - beri waktu mengunyah, menelan, beri sosialisasi dan bantuan makan sesuai dengan indikasi - Rasa nyaman akan menumbuhkan rasa tenang, tidak cemas serta kepercayaan pada perawat.

- Nutrisi yang adekuat akan menghasilkan daua tubuh yang optimal - Dengan adanya partisipasi dari pasien, maka kesembuhan luka dapat lebih mudah terwujud

- Setiap skala nyeri memiliki managemen yang berbeda - Antisipasi nyeri akibat luka post operasi - Antisipasi nyeri akibat luka post operasi - Mobilitas dapat merangsang peristaltik usus sehingga mempercepat flatus

- Memberi kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari norma/ dasar pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi - Trasnsisi pemberian makan oral lebih disukai - Pasien perlu bantuan untuk menghadapi masalah anoreksia, kelelahan, kelemahan otot

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L. J, 2001, Diagnosa keperawatan, Jakarta : EGC Doengoes, M E, 2000, Rencana Askep pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Jakarta : EGC Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Jakarta : EGC Winkjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Asuhan Keperawatan sTroKe

Pengertian Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi pada pembuluh darah ( price dan Wilson). Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan berhentinya suplai darah kebagian otak ( bruner dan suddarth,2000 : 2123). Stroke adalah gangguan yang mempengaruhi aliran darah keotak dan mengakibatkan deficit neurologik (lewis,etc,2000 : 1645). Stroke non hemorogik adalah bila gangguan peredaran darah otak ini berlangsung sementara, beberapa detik hingga beberapa jam (kebanyakan 10 - 20 menit) tapi kurang dari 24 jam. (Arief Inansjoer, 2000 : 17). Stroke non hemorogik adalah penyakit atau kelainan dan penyakit pembuluh darah otak, yang mendasari terjadinya stoke misalnya arteriosclerosis otak, aneurisma, angioma pembuluh darah otak. (dr. Harsono, 1996 : 25). Stroke non hemorogik adalah penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua yang kebanyakan berkaitan erat dengan kejadian arterosklerosis (trombosis) dan penyakit jantung (emboli) yang dicetus oleh adanya faktor predisposisi hipertensi (Satyanegara, 1998 : 179) Anatomi fisiologi “system persarafan” System saraf Sel saraf ( neuron) tipe struktur · neuron aferen ( sensorik) · neuron eferen ( motorik) · nerom asosiasi ( interneuron atau internucial) · neuron multipolar · neuron unipolar · neuron bipolar Sel penyokong ( neuroglia dan sel schwann ) · astroglia ( astrocyte ) · oligodendroglia ( oligodendrocyte ) · mikroglia · ependima Korteks Cerebri fungsi : persepsi sensori mengontrol pergerakan volunteer bahasa personality trait fungsi mental meningkat : berfikir, memori, mengambil keputusan, kreatifitas dan kesadaran diri Korteks cerebri mempunyai banyak lipatan ( giri atau girus-tunggal) dan celah-celah atau lekukan (sulki atau sulkus – tunggal) è membagi setiap hemisfer menjadi : · sulkus sentralis (fisura Rolando) è lobus frontalis dan lobus parietalis · sulkus lateralis ( fisura sylvius) è lobus frontalis dan lobus parietalis dan lobus temporalis · sulkus parieto-oksipitalis è lobus oksipitalis dan lobus parietalis Proteksi, Penyokong dan Sumber nutrisi otak - kira-kira 90% sel dalam SSP : neuroglia atau sel glia mengisi ½ volume otak ; SST : sel schwann - 4 tipe neuroglia dalam SSP 1. Astroglia Fungsi : · sebagai “glue” menjaga neuron dalam jarak tertentu · berperan dalam pembentukan sawar darah otak · pembentukan scar neural è memperbaiki nutrisi otak · berperan dalam aktivitas neurotransmitter : dengan mengambil glutamate ( eksitatori ) dan GABA (inhibitor) ketempat aksinya · mempertahankan konsentrasi ion cairan ekstrasel dengan mengambil K+ >> dan menormalkan eksitabilitas neural · meningkatkan pembentukan sinaps dan menguatkan transmisi sinaptik melalui sinyal kimia dengan neuron · berperan dalam perkembangan otak fetal 2. Oligodendroglia ( oligodendrocyte ) Fungsi : Bertujuan dalam pembentukan selubung myelin pada SSP setiap oligodendroglia mengelilingi beberapa neuron dan membran plasma membungkus tonjolan neuron è myelin-myelin pada SST dibentuk oleh sel schwann. 3. Mikroglia Fungsi : berperan sebagai fagosit ( mencerna sisa-sisa jaringan yang rusak ) è melawqan infeksi 4. Ependima Fungsi : berperan dalam produksi cairan otak ( CSF ) neuroglia yang membatasi system ventrikel otak atau SSP, merupakan sel epitel dari pleksus koroideus. Nucleus basalis Fungsi : · menghambat tonus otot · koordinasi pergerakan lambat dan dipertahankan · supresi pola pergerakan yang tidak digunakan Thalamus Fungsi : · ‘relay station’ untuk semua input sinaptik · Sensasi kesadaran umum atau tidak kritis · Integrasi ekspresi motorik atau control motorik oleh karena hubungan fungsinya terhadap pusat motorik utama dalam korteks motorik cerebri, serebrum dan ganglia basalis Hypothalamus – bawah thalamus Fungsi : · Pengaturan rangsangan dari SSO perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi · Pengaturan hormone-hormon · Pengaturan cairan tubuh dan komposisi elektrolit ( rasa haus, urine output_, intake makanan, suhu tubuh Serebelum Terletak dalam fossa cranii posterior, ditutupi duramater seperti atap tenda : tentorium ( memisahkan dari posterior serebrum) Fungsi : · Pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot · Mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh Serebrum · Terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik, mengatur proses penalaran, ingatan dan intelegensi · Dibagi : hemisfer kiri dan hemisfer kanan è fisura longitudinal mayor è korpus kalosum · Bagian luar hemisfer serebri terhadap substansia grisea ( korteks serebri ), atas substansia alba merupakan bagian dalam inti hemisfer : pusat medulla, dalam substansia alba : ganglia basal Faktor resiko -Hipertensi -Hiperkolesterol atau hiperlipidemia -Merokok -Obesitas -Diabetes mellitus -Penggunaan obat-obatan napza dan alcohol Tipe stroke I. Stroke Iskemik · stroke trombolitik : - serangan iskemik transient (TIA) - stroke in evolution (RIND) - stroke sempurna · stroke emboli II. Stroke Hemoragic perdarahan intra cerebral (PIS atau ICH) ; SAB Etiologi trombosis ( bekuan darah didalam pembuluh darah otak atau leher) embolisme serebral ( bekuan darah atau material lain yang dibawa keotak dari bagian tubuh lain ) iskemia ( penurunan aliran darah kearea otak) hemoragi serebral ( pecahnya pembuluh darah cerebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak) Manifestasi Klinis Arteri vertebro-basilaris - monoparese, quariparese - ataksia, reflek babinski (+) - disartia, disfagia - sinkop, vertigo, pusing - gangguan memori - penurunan tingkat kesadaran : sopor-koma - gangguan penglihatan : diplopia, nistagmus, homonimus hemianopsia, ptosis - muka baal ( penurunan sensori ) - refleks tendon meningkat Arteri karotis interna - Amaurosis fugaks, aphasia ekspresif - Penurunan sensorik dan motorik kontralateral · Arteri cerebral anterior - Kelemahan kontralateral tungkai > lengan - Gangguan sensori kontralateral - amnesia · Arteri cerebral posterior - koma - hemiparese kontralateral - aleksia - kelumpuhan N III - koreatetosis, ataksia - kehilangan sensasi dalam, penurunan sensasi sentuhan · Arteri cerebral media - monoparese atau hemiparee kontralateral ( lengan > tungkai ) - kadang-kadang hemianopsia kontralateral - aphasia global, anosmia, alexia, agraphia - disphagia Komplikasi · oedema atak · pneumonia · hidrosefalus Patoflowdiagram aterosklerosis IHD,AMI,RHD HT,abnormalias vaskuler DM atrial fibrilasi (AVM, aneurisma) trombus emboli perdarahan (berupa plak ateroma, bekuan darah,udara) penurunan tekanan perfusi vaskularisasi distas iskemik pelebaran kolateral anoksia gas aktivitas elektrik metabolisme anaeorb pompa na 2+,k+ gagal asidosis local na + air masuk ke sel keluar sel pompa na 2+,k+ gagal edema intrasel hiperkalemia edema + nekrosis edema ekstra sel jaringan perfusi jaringan cerebral menurun sel mati secara progresif defect fungsi otak fungsi motorik fungsi bicara fungsi menelan paralisis aphasia disphagia Pemeriksaan Diagnostik a. Angiografi Serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik, seperti perdarahan atau adanya obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau rupture. b. Scan CT Memperlihatkan adanya edema, hematoma, skemia dan adanya infark. c. Fungsi Lumbal Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis, emboli serebral, dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemorogik subaraknoid atau perdarahan intracranial. Kadar protein total meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi. d. MRI Menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemorogik, Malformasi Arteriovena (MAV) e. Ultrasonografi Doppler Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri karotis (cairan darah/muncul plak) arteriosklerotik). f. EEG Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. g. Sinar X Tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal yang berlawanan dari masa yang luas. Klasifikasi internal terdapat pada trombosis selebral. Penatalaksanaan Non farmakologik · tirah baring · posisi head up ( stroke hemoragic) · posisi supinhe (stroke infark) · nutrisi : oral, enteral, perenteral · personal hygiena · pemeliharaan kepatenan jalan napas : suctioning dan pemasngan mayo tube Farmakologik · aspirin · glucose · manitol · obat seperti serenace ativan Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Proses perawatan adalah suatu metode yang sistematis dalam memberikan asuhan keperawatan secara individual yang fokusnya adalah respon manusia yang unik baik secara perorangan maupun kelompok orang yang mempunyai masalah kesehatan aktual, resiko dan potensial. Oleh karena itu pengkajian yang cermat dan teliti meliputi aspek bio-psikososio dan spiritual akan dapat menentukan permsalahan pasien yang lebih akurat. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pasien dengan stroke non hemorogik dapat dilakukan dengan mnggunakan teori sesuai dengan metode pendekatan proses keperawatan yang meliputi tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implemetasi dan evaluasi. Adapun data yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut : A. Pengkajian Awal Meliputi nama pasien, jenis kelamin, umur, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat rumah serta tanggal masuk rumah sakit. B. Pengkajian Data Dasar 1) Riwayat kesehatan dahulu a) Biasanya pernah menderita hipertensi, penyakit jantung dan diabetes mellitus. b) Biasanya pasien mengalami stress. c) Kadang kala pernah mengalami stroke. 2) Riwayat kesehatan Sekarang a) Pada umumnya kejadian secara mendadak dan adanya perubahan tingkat kesadaran yang disertai dengan kelumpuhan. b) Diawali dengan gangguan keluhan penglihatan seperti penglihatan kabur, kembar, dapat juga nyeri kepala, kadang kala seperti berputar, lupa ingatan sementara dan kaku leher. c) Biasanya pasien mengeluh adanya perubahan mental emosi yang labil, mudah marah, dapat juga disorientasi maupun menarik diri. d) Dapat juga keluhan pasien setelah kejang mulutnya, mencong disertai gangguan berbicara, kesemutan dan tangan terasa lemah atau tidak dapat diangkat sendiri. 3) Riwayat kesehatan keluarga a) Biasanya adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi, kelainan jantung dan diabetes mellitus. b) Sering juga terdapat riwayat keluarga yang menderita kelainan pembuluh darah seperti artera vehol malformasi, asma bronchial dan penyakit paru aobtruksi menahun (PPOM). C. Data Fisik Bilogis (Doenges, M.E, 1999 : 290) 1) Aktivitas/istirahat Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis (hemiplegia). Tanda : Gangguan tonus otot (flaksid, spastis), paralistik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum. Gangguan penglihatan. Gangguan tingkat kesadaran. 2) Sirkulasi Gejala : Adanya penyakit jantung (MCl, rematik/penyakit jantung vaskuler, GJK, endokarditis bakterial) polisitemia, riwayat hipotensi postural. Tanda : hipertensi arterial (dapat diotemukan/terjadi pada CVA) sehubungan dengan adanya embolisme/malformasi vaskuler. Nadi : Frekuensi jantung bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung/kondisi jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomator). Distrima, perubahan EKG Desiran pada karotis, temoralis dan arteri iliaka/aorta yang abnormal. 3) Integritas Ego Gejala : Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa. Tanda : Emosi yang stabil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan gembira. Kesuluitan untuk mengekspresikan diri. 4) Eliminasi Gejala : Perubahan pola brkemih, seperti inkontinensia urine, anuria, distensi abdomen (distensi, kandung kemih berlebihan), bising D. Data Psikologis 1) Dampak dari masalah fisik terhadap psikologi pasien (emosi, perasaan, konsep diri, daya pikir, kreatifitas) Pasien biasanya mengalami hemiparesis kiri maupun hemiparesis kanan serta mengalami gangguan fisik sehingga pasien mampu memperlihatkan dampak dari masalah fisiknya terhadap psikologis seperti : a) Mudah tersinggung, akibat ketidakmampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. b) Takut karena pasien berada dalam situasi yang mengancam dimana suatu waktu maut dapat saja menyemputnya atau pasien tidak bisa lagi berjlan. c) Cemas, kecemasan yang terjadi adalah sebagian respon dari rasa takut akan terjadinya kehilangan uakan sesuatu yang bernilai bagi dirinya yaitu kehidupan atau fungsi tubuh serta pekerjaannya. d) Rasa bersalah, ini timbul karena diri pasien tidak berhati-hati dan disiplin sehingga menyakitnya kambuh. e) Marah dan bermusuhan, ini timbul karena perasaan jengkel karena berkurangnya kemampuan pasien dan juga berkurangnya peran pasien di dalam keluarga dan masyarakat. f) Mudah lelah, adanya kecenderungan mudah capek bila membaca, bercakap-cakap dan dalam melakukan pekerjaan. g) Ingatan berkurang. h) Inisiatif berkurang E. Data Sosial Ekonomi 1) Dampak terhadap sosial : keluarga, masyarakat dan pekerjaan. a) Stroke mungkin dirasakan sebagai masalah besar bagi keluarga, karena keadaan yang mengancam pasien merupakan ancaman bagi keluarga. Pasien mengalami stroke hampir seluruh kebutuhannya tergantung pada keluarga. b) Data-data yang berkaitan dengan penghasilan Semua data-data yang berkaitan dengan penghasilan diantaranya sumber penghasilan tetap dan sumber penghasilan tambahan. c) Sumber-sumber yang mendukung d) Makanan/cairan Gejala : nafsu makan hilang Mual, muntah selama fase akut (peningkatan TIK) Kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi dan tenggorokan, disfagia. Adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah. Tanda : kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan faringeal), obesitas (faktor resiko). e) Neurosensori Gejala : Sinkope/pusing (sebelum serangan CSV/selama TIA). Sakit kepala akan berat dengan adanya perdarahan intraserebral atau subarakhnoid. Kelemahan/kesemutan/kebas (biasanya terjadi selama serangan TIA, yang ditemukan dalam berbagai derajat pada stroke jenis yang lain), sisi yang terkena terlihat seperti mati/lumpuh. Penglihatan menurun, seperti buta total, kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan monokuler), penglihatan ganda, (diplopia) atau gangguan yang lain Gangguan rasa pengecapan dan penciuman. Tanda : Status mental tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragis, dan biasanya akan tetap sadar jika penyebabnya adalah trombosis yang bersifat alamai, gangguan tingkah laku (seperti letargi apatis menyerang), gangguan fungsi kognitif (seperti penurunan memory, pemecahan masalah). Ekstremitas : kelemahan/paralysis (kontra lateral pada semua jenis stroke) gangguan tidak sama, refleks respon melemah secara kontra laterl, pada wajah terjadi paralysis atau parese (ipsilateral). Afasia moyorik (kesulitan untuk mengungkapkan kata), afasia sensorik (kesulitan untuk memahami kata-kata secara bermakna) atau afasia global (gabungan dari kedua hal di atas.) kehilangan kemampuan untuk mengenali masuknya rangsang visual, pendengaran, taktil (agnosia). Kehilangan kemampuan menggunakan motorik saat pasien ingin menggerakkan (apraksia). Ukuran atau reaksi pupil tidak sama, dilatasi atau miosis pupil ipsilateral (perdarahan/herniasi) f) Nyeri/keamanan Gejala : Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis terkena) Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot/fasia. g) Pernapasan Gejala : Meerokok (faktor resiko) Tanda : Ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan napas. Timbulnya pernapasan sulit dan/atau tak teratur. Suara napas terdengar/ronki (aspirasi sekresi). h) Keamanan Tanda : Motorik/sensorik : Masalah dengan penglihatan Perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan). Kesulitan untuk melihat objek dari sisi kiri (pada stroke kanan). Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit. Tidak mampu mengenai objek, warna kata dan wajah yang pernah dikenalinya dengan baik. Gangguan berespon terhadap panas dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh. Kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri (mandiri). Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar/kurang kesadaran diri (stroke kanan) i) Interaksi Sosial Tanda : Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi. j) Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke (faktor risiko) Pemakaian kontrasepsi oral. Kecanduan alkohol (faktor risiko) Diagnosa dan Intervensi 1. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan oklusif (oklusif). Hasil yang diharapkan: · Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya atau membaik, fungsi kognitif dan motorik · Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tidak adanya tanda-tanda peningkatan TIK · Menunjukkan tidak ada kelanutan deteriorasi atau kekambuhan deficit Intervensi Rasional 1.Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya atau standar Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas, dan kemajuan kerusakan SSP. Dapat menunjukkan TIA yang merupakan tanda terjadi trombosis CVS. 2.Pantau tanda-tanda vital seperti: · Adanya hipertensi atau hipotensi. Bandingkan tekanan darah yang terbaca pada kedua lengan. · Frekuensi dan irama jantung, auskultasi adanya murmur. · Catat pola dan irama pernapasan, seperti adanya periode apneu setelah pernapasan, hiperventilasi, pernapasan cheyne’s stokes. · Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksinya terhadap cahaya. Variasi mungkin terjadi oleh karena tekanan serebral pada daerah vasomotor otak. Hipertensi atau hipotensi postural dapat menjadi factor pencetus. Perubahan terutama adanya bradikardi dapat terjadi sebagai akibat adanya kerusakan otak. Disritmia dan murmur mencerminkan adanya penyakit jantung yang telah menjadi pencetus. Ketidakteraturan penapasan dapat memberikan gambaran lokasi kerusakan serebral atau peningkatan TIK dan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya. Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III) dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik. Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang memperdarahinya. 3.Catat perubahan dalam penglihatan, seperti adanya kebutaan, gangguan lapang pandang. Gangguan penglihatan yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena, mengindikasikan keamanan yang harus mendapatkan perhatian dan mempengaruhi intervensi yang akan dilakukan. 4.Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika pasien sadar. Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indicator dari lokasi atau derajat gangguan serebral dan mungkin mengindikasikan penurunan atau peningkatan TIK. 5.Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis. Menurunkan tekanan arteri dan meningkatkan drainase dan mungkin sirkulasi atau perfusi serebral. 6.Cegah terjadinya mengejan saat defekasi dan pernapasan yang memaksa (batuk terus-menerus). Maneuver valsava dapat meningkatkan TIK dan emperbesar resiko terjadinya perdarahan. 7.Berikan O2 sesuai indikasi Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan tekanan meningkat atau terbentuknya edema. 2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada hemisfer bahasa atau bicara. Tujuan pasien dapat berkomunikasi verbal Dengan criteria: · Mampu mengkomunikasikan kebutuhan dasar · Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk mengekspresikan diri dan memahami orang lain Intervensi Rasional 1.Bedakan antara gangguan bahasa dan gangguan wicara. Bahasa meliputi pemahaman dan transmisi ide serta perasaan bicara merupakan mekanik dan artikulasi dari ekspresi verbal. 2.Ajarkan pasien tekhnik memperbaiki bicara (bicara lambat dan kalimat pendek). Tindakan yang disengaja dapat dilakukan untuk memperbaiki bicara dengan memperbaiki bicara, percaya diri akan meningkat dan upaya lebih keras untuk bicara akan dilakukan. 3.Gunakan strategi untuk memperbaiki pemahaman klien bicara dengan pelan, kata-kata yang dimengerti, gunakan sentuhan saat bicara. Dengan membaiknya pemahaman pasien dapat membantu menurunkan frustasi dan meningkatkan rasa percaya intonasi suara dapat dengan tepat diinterpretasikan oleh pasien. 4.Anjurkan keluarga untuk berkomunikasi dengan pasien. Mengurangi isolasi dan meningkatkan komunikasi yang efektif. 5.Kolaborasi dengan ahli terapi wicara Pengkajian secara individual kemampuan bicara dan dapat mengidentifikasikan kekurangan atau kebutuhan therapy. 3. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama. Tujuan: · Gangguan integritas kulit tidak terjadi · Kulit tidak kemerahan · Tidak terdapat lecet Intervensi Rasional 1.Kaji integritas kulit pasien. Mengetahui sejauhmana perubahan integritas kulit pasien. 2.Berikan posisi miring kanan, miring kiri tiap 2-4 jam. Menghindari terjadinya penekanan kulit yang terlalu lama, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan kulit. 3.Jaga kerapihan dan kebersihan tempat tidur. Kerapihan dan kebersihan tempat tidur dapat meminimalkan penekanan yang berlebihan akibat kerut-kerutan alat tenun. 4.Berikan massage pada daerah punggung pada saat memandikan dan merubah posisi tidur pasien. Massage dapat membantu sirkulasi ke daerah punggung atau bagian tubuh yang tertekan sehingga supply O2 optimal dan gangguan integritas kulit minimal. 5.Ikut sertakan keluarga untuk membantu memperhatikan pasien dalam kebersihan dan kesembuhan klien. Keluarga dapat membantu sebagian proses perawatan.

By :
Free Blog Templates